HOME OWNER CONTACTS FAQs FOLLOW DBOARD NEWER OLDER

#38 Iseng Menulis
Friday, 3 February 2017 - Permalink - 0 comment(s)

The First Meeting

"Tara, lunch nanti makan di luar, yuk!"

"Um, besok aja, ya. Lagi shark week, nih. Hari pertama. Lo bertiga dulu sama Evan dan Mike" ujarku lemas.

"Hari pertama banget? Ya sudah, mau nitip?"

"Belum ada, sih. Nanti gue chat kalau ada yang gue pengin, thanks by the way."

Tara kembali berkutat dengan laptop di depannya. Hari ini cukup banyak kejadian yang perlu ditulis, termasuk Golden Music Awards nanti malam. Bekerja di salah satu media online memang cukup menguras tenaga dan waktunya, namun Tara senang. Sudah menjadi impiannya sebagai penulis.
Jam makan siang pun tiba, Tara hanyalah seorang diri di kanalnya. Beberapa kanal lain juga terlihat sepi, banyak yang keluar kantor mencari makan.

Headset yang terpasang di kedua telinga Tara membuat perempuan itu berada di dunianya sendiri. Sudah tiga artikel ia naikkan mengenai artis Korea, kini belum ada topik yang terlalu bagus untuk diberitakan. Tara pun mengambil cokelat yang dibawanya dari apartemen sambil membuka situs Youtube.

Sambil mencari video menarik, Tara mengigit sebatang cokelat itu. Di sampingnya terdapat teh hangat dengan kadar gula rendah. Selama shark week, sudah menjadi kebiasaannya untuk makan makanan manis yang menghangatkan tubuh.

Keasyikkannya di jam istirahat siang membuat Tara tak sadar kehadiran gadis mungil yang berdiri tepat di samping kursi kerjanya.

"Tante, aku mau cokelat punya Tante," ujar gadis kecil itu.

Namun, Tara tak mendengar lantaran sepasang headset masih tersampir di kedua telinganya. Volume yang cukup kencang semakin tidak membantu dirinya untuk menyadari panggilan gadis mungil itu berkali-kali.

"Tante, aku mau cokelat itu. Tanteee," panggilnya sekali lagi, kini menarik lengan kemeja Tara.

Yang dipanggil sontak kaget bukan main. Headset yang dipakainya masih terpasang, video klip yang ditontonnya juga terus berjalan. Namun, pandangannya kini melotot terhadap gadis cilik di sampingnya yang kini tersenyum lebar dan menunjuk-nunjuk cokelat di mejanya.

Sadar sepenuhnya, Tara melepas headset miliknya lalu terdiam. Ini bocah datang dari mana?

"Ada yang bisa saya bantu, Dek?"

"Aku mau cokelat punya Tante. Tante lagi makan cokelat, 'kan? Aku mau satu."

"Memangnya Adek sudah boleh makan cokelat?"

"Boleh kalau Om nggak lihat. Boleh ya, Tante?" Gadis mungil itu kini memasang wajah memelas.

Ragu-ragu, Tara pun membuka bungkusan salah satu cokelatnya dan diberikannya kepada sang gadis kecil. Yang menerima sontak tersenyum lebar, terlihat senang sekali mendapat cokelat gratis.

"Tante baik banget, deh. Nanti aku kenalin sama Om. Om aku ganteng banget, loh, Tan. Pasti Tante suka," cengir gadis itu.

Tara yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil dan mengusap kepala gadis mungil di depannya itu. Tak lama, cokelat itu lenyap dilahap olehnya. Puas dengan snack kecilnya, gadis kecil berponi rata itu melangkah maju. Kepala pun bergerak seperti ingin membisikkan sesuatu.

Menyadari gerak-gerik itu, Tara menundukkan sedikit kepalanya. Namun bukan bisikan yang diterima, justru sebuah kecupan kecil di pipi kanannya.

"Terima kasih, Tante cantik. Aku pergi dulu ke kantor Om," ucapnya sambil melangkah mundur dan melambai kecil dengan salah satu tangannya.

Belum sempat membalas, gadis itu keburu lenyap di balik pintu yang kini tertutup rapat. Tara pun menghela nafas kecil lalu kembali berkutat dengan layar di depannya. Video klip yang ditontonnya pun sudah berganti ke trailer film yang tak dikenalnya.

"Itu anak siapa coba? Nongol gitu aja di sebelah gue," gumamnya.

Masih terfokus pada tontonannya, tangan kanan Tara meraba mejanya hendak mengambil cokelat tersisa. Namun, hanya tekstur kayu meja kerjanya yang ia dapatkan.

"Sial! Anak itu ambil cokelat gue semua tadi. Pasti dia colong pas nyium pipi gue," sungut Tara, baru tersadar.

Diraihnya ponsel yang terletak tak jauh dari laptopnya untuk menelpon seseorang.

"Mia, beliin gue Kit Kat 5 biji ya."

----------

"Kila, kamu dapat cokelat-cokelat itu dari mana?"

"Tadi sebelum Om jemput, Kila mampir ke meja Tante cantik, terus Kila minta cokelat punya dia," jawab sang gadis yang kini duduk di sebuah sofa maroon yang terlihat mewah, sambil mengunyah cokelat tersisa.

"Tante cantik? Siapa?"

"Ada deh, Om. Kila lupa di lantai berapa tadi. Pokoknya Tante itu cantik. Kayak artis Korea yang main di drama tentara itu loh, Om," celetuk Kila, panjang lebar.

"Kamu kebanyakan nonton drama Korea. Sudah, bobo siang dulu di kamar Om. Om mau lanjut kerja," ujar sang pria bertubuh tinggi yang kini menggendong Kila.

Dibawanya sang gadis kecil ke kamar pribadi di dalam ruang kerjanya yang luas dan megah. Begitu tiba di kasur, Kila langsung terlelap sambil memeluk sebuah boneka kelinci putih. Dirapikannya poni rata sang gadis cilik itu dengan tatapan penuh sayang.

Setelah memastikan Kila sudah tertidur nyenyak, sang pria langsung berdiri tegap dan meninggalkan kamar cukup lebar itu dengan langkah pelan.

Ekspresi lembut yang diberikannya kepada Kila langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu duduk di kursi kebesarannya, matanya kian menajam melihat tumpukan dokumen di mejanya.

Pria itu siap kembali bekerja.

----------

"Tar, lo lembur hari ini?"

"Yup. Ada awards yang mesti gue liput. Lo balik duluan aja, Van."

Evan yang menjadi lawan bicara Tara lalu mengamati meja Tara yang cukup kacau. Sampah-sampah sisa cokelat dan snack ringan lainnya masih tersebar kacau. Evan pun menarik tumpukan plastik-plastik itu dan dibuangnya ke tong sampah.

"Saking lemasnya, lo sampe nggak bisa buang sampah-sampah itu, hm?" Tanya Evan, heran.

"Kayak lo nggak ngerti cewek aja, Van. Namanya juga first day," timpal Mia.

Evan pun hanya menyengir kecil dan mengambil jaketnya. Hari sudah pukul enam sore, beberapa karyawan sudah meninggalkan meja kerjanya.

"Gue duluan, guys. Tar, kalau ada apa-apa telpon gue aja," ujar Evan sebelum pulang.

"Cieee, peduli banget," sorak Mia.

Sedangkan yang disoraki pun memutar bola matanya.

"Thanks, Van. But I'm fine."

Setelah kepergian Evan, Mia menyusul pamit dan menyemangati rekan kantor sekaligus sahabat karibnya itu. Kini, Tara hanya bersama beberapa karyawan dari kanal lain yang juga lenbur di lantai lima tempatnya bekerja.

Sambil menunggu bahan liputannya mulai, Tara membuka situs sosial media dan mengambil foto-foto red carpet para pengisi acara Golden Music Awards.

----------

"Om, Mama masih kerja?" Celetuk Kila sambil memperhatikan jalanan di depannya.

"Masih. kamu mau ketemu Mama, 'kan?"

"Mau banget!"

"Kalau gitu, jadilah anak manis dan jangan lepas sabuk pengamanmu lagi," ujar sang pria yang masih fokus menyetir.

Sesampainya di tempat tujuan, sang pria memarkirkan mobilnya di area yang cukup strategis. Digandengnya Kila menuju lobi gedung kantor tempatnya singgah dan memasuki lift.

Mereka bersama beberapa office boy ketika berada di dalam lift. Lift tersebut berhenti di lantai lima yang menjadi tujuan para office boy. Tersadar akan sesuatu, Kila langsung melepas gandengannya lalu berlari keluar dari lift. Pria itu sontak terkejut dan ikut keluar mengejar gadis cilik itu.

"Kila! Hei! Kamu mau ke mana?" Teriak sang pria agak kencang.

Yang dikejarnya tak menghiraukan panggilan itu. Kaki mungilnya terus berlari hingga tiba di sebuah meja kerja yang diduduki oleh Tara.

Tara yang dalam keadaan mengantuk masih fokus terhadap tontonan di hadapannya. Kedua jempolnya bergerak cepat mengetik sesuatu sebagai bahan liputannya. Karena tak memasang headset, Tara langsung menoleh menyadari kehadiran Kila

"Kamu? Kamu anak kecil yang tadi, 'kan? Kok belum pulang?"Tanya Tara, terheran-heran.

Tak menjawab, Kila justru mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik isinya. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Kila memposisikan ponselnya di samping wajah Tara.

"Tuh, 'kan! Tante mirip banget sama artis Korea yang ini," sorak Kila sambil tertawa senang.

Melihat siapa artis yang berada di ponselnya, Tara langsung tersipu malu dan tersenyum canggung.

"Adek kecil, kamu pulang, gih. Mau Tante anterin ke Papa Mama kamu?"

"Jangan sebut Papa di hadapan dia."

Terkejut, Tara langsung menolehkan pandangannya ke arah pria tinggi yang berada di belakang Kila. Sedangkan si gadis kecil langsung terdiam sesaat, namun tak lama kembali tersenyum. Walau senyumnya tak selebar tadi.

"Nggak apa-apa, Om. Tante 'kan nggak tahu," ucapnya menenangkan, lalu berdiri mendekat dengan pria yang dipanggilnya Om itu.

Tara hanya bisa bengong layaknya terhipnotis. Pria di depannya itu menjulang tinggi dan terlihat begitu menakutkan. Ekspresinya terlihat sedikit mengeras, mata pria itu seperti membidik dirinya tajam.

"Saya bukan orang tuanya. Omong-omong, kamu yang memberikan cokelat itu untuk Kila?" Ucapnya, seakan-akan bisa membaca pikiran Tara.

"Eh? Oh. Iya, tadi dia minta.." Jawab Tara, menciut.

"Kalau begitu, terima kasih. Dan ingat, jangan ucapkan sebutan itu lagi di hadapan Kila."

Tara kembali terbengong. Otaknya yang agak linglung mencerna maksud pria itu dengan lambat. Beberapa menit kemudian, ia tersadar.

"Ah, iya. Maaf. Saya nggak tahu," balasnya setelah tahu maksud sang pria. Matanya masih memperhatikan pria itu.

"Om, jangan galak-galak, dong. Tante, ini Om yang tadi aku sebut. Mau kenalan, nggak?"

"Eh? Tidak perlu.."

"Kenalin, ini Om Leo. Om paling keren dan tampan se-dunia. Nah, Om, kalau Tante ini namanya... Um..."

"Tara Shibuya," benar, itulah nama lengkap Tara. Namun bukan pemilik nama tersebut yang melengkapi perkenalan Kila.

"Itu nama Tante? Keren! Tante Shibuya, aku Kila," sahut Kila sambil memajukan tubuhnya dan mengangkat tangan kanannya, hendak menyalami Tara.

Tara tak langsung membalas perkataan Kila, karena matanya masih beradu dengan pria yang berada di depannya.

"Leonardo.. Harper...?" Gumam Tara, dengan suara yang sangat kecil nyaris seperti bisikan.

"Apa kabar, Tara?"


----------

Fiuh. Ini iseng doang, kayaknya nggak akan dilanjutin hahaha. Cuma kepikiran mau cari tahu, gua masih bisa nulis cerpen / novel gitu atau engga. Kayaknya udah jelek banget. Dulu tuh gua sering banget nulis fanfiction di Facebook, terus di-tag ke temen-temen buat direview hahaha.

Gua sebenernya suka nulis, dan sering kepikiran ide-ide buat bikin novel iseng. Cuma gua selalu ngestuck di tengah-tengah dan kemalasan ini sudah menggerogoti jiwa. Jadi, beberapa project gua dulu pada akhirnya harus dihapus. Untungnya gua nggak pernah sampe yang setengah jalan banget, biasanya project-project itu cuma sampe di chapter 3 atau 4.

Mungkin gua akan lanjut kalo niat. Mungkin juga enggak... Lol. Ini postingan iseng. Murni kepikiran di otak.

Jika ada kesamaan penamaan karakter dan plot, murni kebetulan semata. Gua baru kepikiran selama nulis, idenya murni dari otak pribadi hahaha.

Labels: ,