HOME OWNER CONTACTS FAQs FOLLOW DBOARD NEWER OLDER

#39 Nggak Mau Gubernur Baru
Saturday, 18 February 2017 - Permalink - 0 comment(s)
Halo! Sudah 2 minggu lebih nggak update. Tapi 3 kali posting dalam 1 bulan termasuk kemajuan yang pesat untuk ukuran blogger super mager macam gua, hahahaha.


Btw, Jakarta lagi panas karena Pilkada 2017. Well, sebagai anak komunikasi dengan penjurusan jurnalistik, gua pastinya nggak bisa melepas diri gua dan menjauh dari dunia politik. Bukan berarti gua mau berkecimpung, sih. Tapi, selama ada freedom of speech, gua akan posting apa saja di blog ini. Termasuk pandangan gua yang berhubungan dengan politik.

Well, postingan kali ini gua mau sharing aja kenapa gua pilih salah satu paslon dan menjagokan dia dalam Pilkada 2017. Yup, paslon yang gua jagokan tidak lain dan tidak bukan adalah Paslon nomor 2, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Gua akui untuk masalah etnis, gua sama-sama keturunan warga Tionghoa seperti Pak Ahok. Yea, muka gua udah cina banget gini sama kayak si Bapak. Tapi gua nggak pernah mandang dan memilih pemimpin atau seseorang berdasarkan etnis, suku, agama, latar belakang, dan lain-lain. Perlu dicatet nggak? Lol.

Pak Ahok ini sangat negarawan dan pancasila-is. Gua pribadi sangat mengagumi beliau, atas kerja kerasnya selama ini dalam membangun dan memajukan DKI Jakarta. Tapi yang menyedihkan, nggak sedikit warga yang menyepelekan usaha dan kerja keras beliau ini. Aturan-aturan yang dibuatnya tak ayal diremehkan, usahanya mendidik warga agar menjadi manusia beradab dan cerdas pun juga terkadang tak digubris. Namun, Pak Ahok tetap semangat dan memakai cara yang mungkin cukup memaksa agar warga-warga Jakarta bisa mengerti maksud beliau yang agak keras ini, yang notabene demi mereka sendiri (warga).

Contohnya yang nggak lama ini lagi populer adalah Kalijodo. Padahal maksud beliau baik untuk menjadikan Kalijodo, yang tak pernah disentuh oleh Gubernur-gubernur sebelumnya, menjadi kawasan yang tidak lagi ditakutkan oleh warga karena adanya kegiatan prostitusi. Tapi banyak warga dan pejabat yang melawan keputusan beliau untuk menggusur mereka. Padahal rusun sudah disiapkan, dibiayai oleh pemerintah pula.

Liat kan sekarang Kalijodo seperti apa? Jadi sarana umum yang bikin betah anak-anak muda berlama-lama sampai malam hari. Nggak kalah kece sama Taman Jomblo-nya Kang Emil di Bandung.

 Uwaaa Kalijodo sekarang nih, guys! Rapi bangets.

Bukti lainnya adalah banjir. Yha, oke. Jakarta belum bebas banjir, siapa juga yang pernah mengklaim bahwa Jakarta sudah bebas banjir? Pak Ahok sendiri aja belum pernah ngomong seperti itu. Tapi, semenjak Pak Ahok jadi Gubernur, banjir di Jakarta cepat surut. Kalau dulu, warga Jakarta harus mengungsi karena banjir yang nggak surut-surut, sekarang nggak perlu ngungsi lagi. Paling kalo hujan besar aja atau parah banget, baru deh ngungsi dll. Tapi sekarang, banjir biasanya akan surut dalam waktu 4-5 jam, karena sudah ada Pasukan Oranye yang dibentuk dan diberi gaji yang nggak kalah oke sama pegawai swasta maupun PNS. Titik-titik rawan banjir pun semakin berkurang.

Setiap banjir menghadang, Pasukan Oranye langsung ke TKP dan mengeruk kali, selokan, sungai, agar banjir cepat surut. Jangankan saat banjir. Sebelum banjir terjadi saja, Pasukan Oranye khususnya di musim hujan sudah keliling Jakarta dan mengeruk selokan-selokan di pinggir jalan agar sampah-sampahnya diangkat. Dulu? Coba sebutin ke gua, kapan Pemprov DKI sebelum jaman Pak Jokowi / Pak Ahok jadi Gubernur, mereka pernah bikin pasukan untuk mengeruk dan menormalisasikan sungai? Adakah program mereka yang bikin banjir cepat surut dalam waktu kurang dari 12 jam?

Gua anak Untar. Pastinya, Untar juga terkenal dengan kawasan rawan banjir. Dulu sebelum gua jadi mahasiswa, gua takut. Takut karena tiap hujan, Untar akan banjir sepinggang dan gua harus repot bawa sendal untuk ngobok demi kuliah. Dan selama hampir 3 tahun gua kuliah di Untar, gua nggak pernah sama sekali ngobok. Kalaupun Untar banjir, langsung surut. Cepet banget, kurang dari 1 jam. Padahal dulu depan Untar, kalau banjir surutnya bisa berjam-jam.

Anak-anak Untar sekarang sudah nggak bisa lagi berdoa komat-kamit "Ya Tuhan semoga Untar banjir dan kelas ditiadakan, gua tidur seharian dirumah, kalo perlu Untar libur setahun". Nggak bisa. Why? Ya karena sudah nggak banjir. Gua justru seneng Untar nggak banjir. Mending gua kuliah daripada capek-capek bawa sendal dari rumah, jauh-jauh ke Untar. Demi jaga-jaga kalau Untar banjir dan gua harus ngobok. Nyatanya? Gua nggak pernah tuh liat Untar banjir tinggi lagi. Tiap pagi gua lewatin Kali Grogol, banyak petugas yang sedang mengeruk sampah-sampah disana supaya tidak tersumbat. Tiap pagi loh, guys. Tiap hari. Dulu? Mana ada. Buang tai malah, iya.

Uhuy~

Lainnya? Ada kok. Transjakarta. Dulu gua paling males naik Transjakarta. Takut dicopet, takut nggak ada bus, takut lama nunggu. Sekarang? Beda banget. Waktu menunggu bus gua jauh lebih singkat dibanding dulu. Iya sih, di jam tertentu bus pasti padet dan halte penuh. Karena banyak orang yang ke kantor, kuliah, sekolah. Wajar.

Tapi di jam 9 pagi ke atas aja, halte sudah mulai kosong. Dulu boro-boro, sampai jam 10 siang aja halte masih ramai. Dulu gua takut banget dicopet, apalagi pernah kena sekali. Sekarang? Gua bisa santai main hp di dalam bus ataupun di halte, karena di halte dan bus sudah tersedia kamera CCTV. Dulu gua paling males keluarin duit recehan Rp 3.500 buat bayar tiket. Sekarang enak, tinggal tempel kartu, jalan. Dulu males naik busway pake jaket, kepanasan dan pengap karena bus yang sudah bobrok dan AC-nya nggak dingin. Sekarang enak, pendingin bus sangat kencang sampe gua sendiri kedinginan dan entah kenapa bisa nyaman banget tidur di bus Transjakarta, hahaha.

Satu lagi. Dulu gua masih mengutamakan bus Metromini atau Kopaja sebagai transportasi utama yang cepat dan gampang. Sekarang boro-boro. Transjakarta akan selalu jadi favorit gua, dengan kualitas bus yang tinggi dan pelayanan yang lebih baik berkat kebijakan Pak Ahok. Ngapain gua kepanasan naik Metromini, dengan tingkat kecelakaan lebih tinggi? Ngapain gua belajar nyetir bawa mobil ke kampus? Mending gua naik Transjakarta. Bus bagus, adem, berdiri juga oke, ngurangin kemacetan Jakarta pula.

Transjakarta model Vintage! Pengen naik yang ini banget, jir. Merk? Mercedes Benz donggg
Udah nggak lagi pake merk China yeu~

Dan masih banyak kerja beliau yang sukses bikin gua terpukau, tapi nggak bisa gua sebutin satu-satu. Capek ngetiknya, bro, hahaha. Bisa panjang macam struk belanjaan bulanan Nyokap gua.

Untuk soal kasus penistaan agama, gua nggak akan bahas panjang lebar disini. Yang jelas, video Buni Yani itu ya, menurut gua pribadi, semata-mata untuk menjatuhkan Pak Ahok. Inget ya temen-temen, makan sendok sama makan pakai sendok jelas maknanya bedanya jauh. Terserah. Kalian yang menentukan, kalian yang menilai sendiri. Gua udah nonton video full-nya. Untuk temen-temen gua yang Muslim sendiri, bahkan mereka nggak mempermasalahkan kasus penistaan agama ini, lho.

Dan untuk temen-temen yang memiliki keyakinan memilih pemimpin atau seseorang berdasarkan agama, ya silahkan mendebat gua, tapi gua setuju dengan pidato Pak Ahok yang bilang kalau Anda memilih berdasarkan agama berarti Anda sedang mencoba untuk melawan konstitusi RI.

Iya, dong. Sejak kapan konstitusi RI ada yang berbunyi "Pilihlah pemimpin berdasarkan agama" atau "Pilihlah pemimpin berdasarkan etnis dan ras"? Ada nggak?

Untung kalian yang mau mendebat gua dengan "Lah kan di sila Pancasila ke-1 jelas tuh bunyinya 'Ketuhanan Yang Maha Esa'".... berarti kalian sungguh nggak paham dengan Pancasila. Harusnya saat kalian sekolah, nilai Kewarganegaraan atau dulu disebutnya PKN / PPKN kalian merah.

Biar gua jelasin. Sila ke-1 memang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", tapi bok ya bukan berarti kalian sebagai manusia ciptaan Tuhan mendasarkan sesuatu atas agama dan kepercayaan masing-masing. Itu salah. Kita sebagai manusia ciptaan Tuhan memang sepantasnya mengagungkan diri-Nya, karena dari-Nya lah kita tercipta dan berasal. Kita sebagai manusia ciptaan Tuhan harus menghargai seluruh ciptaan-Nya dan apapun yang diberikan oleh-Nya. Karena itulah berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Tapi, sila ini nggak bisa kamu kaitkan dengan politik. Beda jauh. Politik dan agama nggak bisa dikaitkan, sangat berseberangan. Kalian beribadah ya beribadah, sesuai kepercayaan masing-masing. Tapi dalam dunia politik, ya istilahnya bekerja, berusaha, demi tujuan mulia. Tinggal hasilnya, memasrahkan diri kepada Tuhan. Bukan berarti karena sama-sama Muslim, atau sama-sama Katolik, atau sama-sama China, kalian milih orang.

 Mana yang katanya memilih pemimpin berdasarkan agama? Hm?

Nah lho, bukannya kita diajarkan untuk berteman tanpa pandang bulu? Tanpa melihat agama, suku, etnis, ras, dan budaya? Terus apa bedanya dengan memilih pemimpin? Udah ngerti maksud gua? Yup, se-simple itu.

"Tapi orang nikah aja mesti nyari yang agamanya sama."

Yaelah. Maaf-maaf aja nih, dulu pas gua sekolah juga banyak guru yang bilang, "Kalian kalau mau nikah cari yang se-Agama." Menurut gua sih, di situ udah salah. Kalo gua ngomong sama anak gua nanti, gua nggak akan ngomong kayak gitu.

Emang sih, kalau se-Agama ya presentase pernikahan awet lebih besar. Berantemnya lebih jarang, karena sepaham.

Tapi menurut gua, cinta itu ya perasaan mendalam, kasih sayang terhadap seseorang. Gua belum pernah pacaran sih, dan mungkin gua terdengar sotoy abis disini. Nih, kata orang aja cinta nggak pandang usia. Mau beda 20 tahun kek, masih ada tuh yang pacaran dan awet-awet aja. Asalkan saling pengertian, beda agama sebenernya bisa diatasi kok. Banyak temen-temen dan kenalan gua yang orang tuanya beda agama. Tapi pernikahan mereka awet. Kok bisa? Ya karena mereka saling pengertian dan saling menghargai.

Kok gua jadi ngelantur ke pernikahan dan agama sih? Aduh.

Ya sudah. Pokoknya gua mendukung Paslon Nomor 2, karena sudah sangat terbukti kinerja dan pencapaiannya selama memimpin Jakarta. Kalo kata Paslon 3, warga Jakarta butuh Gubernur baru, itu sotoy abis. Gua nggak mau Gubernur baru. Gua mau Pak Ahok melanjutkan kebijakannya demi Jakarta Baru, Jakarta Maju, dan Jakarta Cerdas.

Sangat disayangkan kalau orang hebat dan cerdas serta hati mulia seperti Pak Ahok disia-siakan oleh warga Jakarta. Gua sebenernya takut di putaran 2 nanti, suara Paslon 1 akan berpindah ke Paslon 3. Apalagi relawan Paslon 1 sudah deklarasi untuk mendukung Paslon 3. Tapi nggak apa-apa, itu pilihan mereka. Gua akan tetap mendukung Paslon 2 demi Jakarta, kota gua.

Soalnya gua masih pengen nyeletuk, "GUA LAPORIN YA KE AHOK" ke PNS-PNS nakal. Ke petugas Transjakarta yang songong sama penumpang. Hehehe. Keren soalnya, ada kesan bangga juga. Baru kali ini liat pemimpin yang dekat banget sama warga <3.

Udah deh, sekian. Mau nontonin Sasuke Shinden dulu. Ganteng banget. Uwuwuwuwwww~

SENYUM KECIL AJA GANTENG BANGET YAWLAAAA

Labels: , , ,