HOME OWNER CONTACTS FAQs FOLLOW DBOARD NEWER OLDER

#28 Sakura Hiden - Chapter 6 Part 2 [In Bahasa]
Thursday, 24 December 2015 - Permalink - 0 comment(s)
 

Hello! Mumpung gaada kerjaan, gua nyoba untuk nge-translate Sakura Hiden Chapter 6 yang sampai saat ini masih stuck di Part 1 untuk terjemahan bahasa Indonesianya di website-website Naruto. Karena sudah banyak yang memposting Sakura Hiden dari Chapter 1 - 5 completed, gua di sini hanya ingin melanjutkan hihihi.

Anyway, I wasn't translating Sakura Hiden from the original japanese book. I was translating this part from here. So, unless my translation makes you confused, please go and try reading to the original english translation there.

-- DISCLAIMER --
Written by : Tomohito Ōsaki
Illustrated by : Masashi Kishimoto
English translation from : Tenka @ Tumblr
Indonesian translation : Selly J.

P.S:
Kalo ada yang kebetulan baca postingan ini, maaf jika translationnya masih kurang jelas. Di sini saya tidak men-translate hanya berdasar dari english translation yang saya ambil. Saya mentranslate sambil membayangkan ceritanya di imajinasi saya, jadi ada beberapa translation yang menggunakan bahasa saya sendiri. Maklum, english saya masih dibawah rata-rata hehehe. I only tried my best ^^ And sorry, no preview of previous chapter from me. Please google it instead :)

Tidak diperbolehkan mengambil translation ini tanpa ijin pemilik. Do not copy this on one occassion without my permission. Please contact me before if you want to use this translation on your site.

SAKURA HIDEN
Chapter 6 Part 2

Ino tiba di sebuah pelataran rongsokan pinggiran kota bersama Sai. Bersembunyi di balik bayangan sebuah barel (tong) baja, mereka terus mengawasi rumah kayu tua berlantai dua yang terletak berlawanan dari sisi jalan.

"Itu salah satu tempat persembunyian
yang ditempati pasukan Kido," ujar Sai menginformasi. "Aku rasa tempat itu digunakan untuk pertemuan tertutup, menyembunyikan atau menyandera orang," lanjut Sai. "Saat aku mengikuti Kido sebelumnya, dia sering datang ke rumah ini."

Rumah persembunyian itu dikelilingi pagar berliku, dan di dekat pintu masuk berdiri seorang sosok menggunakan topeng Anbu dan jubah, berjaga dengan melemparkan tatapan menyapu ke sekitarnya.

"Ino, bisakah kau memeriksa apa ada chakra Sakura dari dalam rumah itu?"

"Baik." Setelah Sai menyuruhnya, Ino memulai teknik sensornya (sensory-perception mode). Dari dalam rumah itu, Ino merasakan tiga jenis chakra. Namun, tidak satupun merupakan chakra Sakura. "Dia tidak ada di dalam sana. Aku tidak bisa merasakan chakra Sakura."

"Begitu." Sai mengangguk tanpa terlihat sedikitpun untuk mundur.

"Katakan, apa kau berencana untuk terus bersembunyi seperti ini dan memeriksa semua tempat yang pernah Kido kunjungi?" Tanya Ino penuh perhatian dan penasaran.

"Tidak sama sekali," balas Sai menggelengkan kepalanya. "Akan terlalu memakan waktu. Lagipula, jika Kido memiliki tempat persembunyian lain yang tidak aku tahu, maka kita tidak punya pilihan."

"Jadi, apa yang kau rencanakan?"

Sebelum tiba di tempat ini, Sai telah mengatakan untuk memakai taktik yang lebih agresif. Sai menunjuk ke arah penjaga itu, "Kita beruntung, hanya ada satu pengawal. Cukup bawa dia keluar."

"Bawa dia keluar? Maksudmu, bertarung, di sini, sekarang?"

"Kita akan membuatnya istirahat. Gunakan jurus pemindah ragamu (shintenshin no jutsu) dan kendalikan dia. Aku akan menyerangnya, dan yang perlu kau lakukan hanya tarik dirimu keluar tepat sebelum seranganku mengenainya."

Ini merupakan versi sederhana dari taktik yang sering digunakan tim InoShikaChou. Ino belum pernah melakukan taktik ini dengan Sai sebelumnya, tapi berhubung hanya ada satu musuh, dan ia percaya pada kemampuan Sai, maka tanpa ragu-ragu Ino menjawab, "Aku mengerti." Membentuk segel dan mengumpulkan kekuatannya, Ino berlari keluar dari balik barel baja tempat ia bersembunyi setelah berkata "Oke, aku pergi."

Shintenshin no Jutsu!

Jurusnya berhasil, Ino pingsan dalam sikap tegak seperti posisi pengawal itu. Mengepalkan sebuah tinju, Sai memperkuat kepalannya dan menghantam tinju itu ke arah si pengawal. Sepersekian detik sebelum tinju itu mengenainya, Ino bersorak, "Kai!", melepaskan dirinya dari raga pengawal itu.

Hal pertama yang dilihat si pengawal setelah ia tersadar, adalah sosok menjulang Sai tepat di depannya. Tinju Sai mengenai bagian perutnya, membuat pengawal itu dalam posisi terpental. Sai lalu memukul bagian belakang leher pengawal itu.

Pengawal itu terkapar tanpa menimbulkan suara, yang tubuhnya kemudian diangkat oleh Sai ke bahunya dan terburu-buru kembali ke Ino.

"Kita interogasi dia, tentang semua yang perlu kita tahu," ujar Sai sambil menyeret pengawal itu.

Begitu tiba di persembunyian terdalam dari tempat rongsokan tadi, Sai melempar tubuh pengawal itu ke tanah. Tumpukan sampah yang tertimbun menggunung membuat persembunyian mereka semakin sempurna dari penglihatan siapapun. Sai mengeluarkan tali lalu mengikat pergelangan tangan serta kaki pengawal itu. Ia kemudian menarik si pengawal yang masih tidak sadarkan diri itu ke posisi tegak, dan menyandarkan tubuhnya pada tumpukan sampah.

"..!!! Sai, kau bajing--"

"Diam," gumam Sai dengan tenang dan mengambil topeng dari pengawal itu. Pengawal itu tampak seperti seorang pria di usia 30an, dan ia memelototi Sai dengan tatapan penuh amarah saat Sai juga menatapnya balik.

"Saya tidak ingin melakukan hal yang tidak sopan terhadap seorang Senior, tapi kami tidak memiliki banyak waktu, maka tolong jawab pertanyaan kami." (di sini Sai pake bahasa yang sangat sopan, entah emang untuk kesopanan atau bermaksud menyindir hahaha)

"...." Tanpa berkata apapun, pria itu memalingkan wajahnya dari Sai.

"Kau menculik seseorang kemarin, bukan? Di mana kau menyembunyikan dia?"

Pria itu tetap memalingkan wajahnya, menutup bibirnya rapat-rapat.

"Aku tahu kau adalah salah satu dari pasukan Kido. Sekarang, di mana kalian menyembunyikan Sakura Haruno?"

Pria itu masih terus berdiam diri, tampaknya ia bersikeras untuk tetap seperti itu sampai akhir.

"Senpai, jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan menggunakan cara-cara yang sebenarnya tidak kuinginkan."

"Siksaan?" Tanya pria itu, kedua sudut mulutnya berkedut membentuk seringai merendahkan.

Sai mengangguk cepat, dan berkata, "Ya, aku juga seorang Anbu sebelumnya, kau tahu? Aku tahu banyak sekali cara untuk membuat seseorang berbicara."

"Boleh saja," jawab pria itu. "Karena, aku juga, sebelumnya termasuk anggota Anbu. Aku akan tahu cara untuk bertahan dari penyiksaan."

"Aku ingin tahu bagaimana hal itu akan membantumu," ucap Sai, saat ia menarik keluar sebuah kunai. Kemudian tanpa ragu, Sai memotong pakaian pria itu. Bagian atas pengawal itu kini terbuka, namun ia tak tampak sedikitpun terganggu.

Ino pun gugup. Ia pernah menyaksikan pemeriksaan kembali saat menjalani misinya. Ia mendengar jeritan amarah dan berbagai ancaman sebelumnya, namun ia tidak pernah berada dalam posisi sebagai penginterogasi.

Berpikir bahwa ini semua terikat untuk mengakhiri kekacauan dari pembantaian dan pertumpahan darah, Ino menguatkan dirinya.

Sai mengeluarkan kuas yang biasa ia gunakan untuk memanggil binatang-binatang tiruan, lalu berujar, "Ino, sebaiknya kau tidak melihat ini."

"...."

Apa yang akan dilakukannya? Apa yang akan digambarnya? Apa dia akan menggambar harimau dan membuatnya menyerang pria itu? Atau seekor ular raksasa untuk mengambil nyawanya? Atau- atau-..

Bayangan mengerikan terlintas dalam pikiran Ino satu per satu, dan sebelum Ino dapat menghentikan bayangan-bayangan itu, ia membuka mulutnya dan berkata, "Hei, Sai, jangan lakukan hal yang terlalu--"

.... mengerikan .... Ino hendak melanjutkan ucapannya saat Sai mulai menggerakkan kuasnya.

Koochi koochi koo... (umm, entah ini sebenernya apa. I really don't know. Jadi saya ngikutin dari engtrans-nya aja........lol)

"Bwaa...hahahahah...ahahahahahahahahaha!!" Pria itu berteriak penuh tawa.

"....I-ini... Ini yang kau maksud siksaan??!!" cemooh Ino tak percaya, namun Sai membalas dengan ekspresi penuh keseriusan di wajahnya, "Saat kau kehabisan waktu, inilah cara terampuh untuk hasil yang paling efektif."

"Kau serius?"

"Yep. Aku membacanya di buku."

Selama pembicaraan mereka, Sai terus menggelitik si pengawal dengan kuasnya.

Pria itu terus tertawa, menggeliat-geliut, hingga terlihat ia mencucurkan air liur dari sudut mulutnya. 

"Bisa tolong katakan padaku? Senpai."

"...Baiklah," jawabnya menyerah, wajah dan suaranya telah menyatakan keputusasaan. Tidak ada satu jejak pun aura misterius dan mengintimidasi sebagai seorang Anbu yang tertinggal di pria itu.

Di pinggiran sisi timur laut dari kota ini, ada sebuah gudang bata. Sakura seharusnya ada di sana, itulah yang dikatakan pria itu pada mereka.

Sai segera memanggil seekor burung tiruan, yang kemudian mereka berdua naiki menuju gudang bata itu.

Ini bukan pertama kalinya Ino menaiki salah satu burung panggilan Sai, namun karena sudah cukup lama, menyebabkan Ino kehilangan keseimbangannya.

"Kalau kau takut, kau bisa berpegangan padaku," ujar Sai seraya menghadap ke depan. Ino merasakan sensasi manis yang familiar dan rasa hangat menyeruak dalam hatinya. Namun akal sehatnya kembali mengambil alih lalu menjawab, "Aku baik-baik saja."

Burung itu cepat. Pemandangan kota di bawah mata mereka berubah menjadi hutan lebat dan ladang hijau yang luas. Mereka bahkan terbang melewati rajawali hitam liar serta elang.

"Aku melihatnya!" Seru Sai, menunjuk ke arah jam dua.

Di luar hutan liar itu, disertai hamparan tanah kosong yang luas, berdiri sebuah bangunan bata di ujung sana. Burung yang mereka tunggangi terbang lebih cepat mendekat ke tujuan mereka.

Hal itu terjadi ketika burung yang mereka naiki mulai turun ke bawah. Beberapa Anbu muncul dan melemparkan kunai ke arah mereka. Sai dengan cekatan mengarahkan burung tiruannya naik dan menghindari serangan kunai itu. Kembali naik ke atas ketinggian langit, burung tiruannya berupaya terbang menuju gudang itu sekali lagi.

"Sakura!!" Sorak Ino, "Kami tiba untuk menyelamatkanmu!!""

Pada saat bersamaan, atap gudang bata itu tiba-tiba meledak terbuka dan sesuatu yang tampak telah menembak keluar dari atap itu.

Sebuah siluet dengan tinju di atas kepalanya -- dan apa yang keluar dari atap itu jelas adalah Sakura, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan chakra.

"Sakura!!!??" Ino menjerit histeris.

"Hmm.. Lucu. Kita seharusnya berada di sini untuk menyelamatkan Sakura...." Pikir Sai, mengerjapkan kedua matanya.

-- Part 2 END --

Labels: , , , ,