HOME OWNER CONTACTS FAQs FOLLOW DBOARD NEWER OLDER

#20 Death Penalty? The Worst
Thursday, 30 April 2015 - Permalink - 0 comment(s)
Hai. Di sini, gua mau berpendapat sedikit soal kasus eksekusi terhadap 9 terpidana mati 'Bali Nine'.

Sebenarnya gua ga begitu baca banget kisah mereka. Seperti Andrew Chan dan lainnya. Tapi yang mengusik gua dari awal sampai sekarang adalah, betapa kunonya Indonesia yang masih menganut sistem hukuman mati. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan lainnya aja udah ga menerapkan sistem hukuman mati. Indonesia yang katanya ingin meng-upgrade ke negara maju, mau sampai kapan kita maju kalau sistem hukumnya aja masih bobrok? Generasi cacat, dan penganut hukuman mati?

Menurut gua, hukuman mati sama saja dengan tindakan kriminal. Itu adalah membunuh nyawa sesama manusia. Hukuman mati jelas membunuh rasa kemanusiaan. Oke, dengan membunuh mungkin akan mengurangi kuantitas pengedar narkoba dan membuat jera mereka supaya berhenti mengedar ataupun mengkonsumsi narkoba.

Tapi apa kalian, pemerintah Indonesia, yakin bahwa hukuman mati dapat membuat mereka jera?

Mungkin ya, tapi gua lebih yakin bahwa kemungkinan terburuk adalah TIDAK.

Dampak yang terjadi justru, menurut gua, adalah masyarakat semakin takut. Kekhawatiran akan semakin meluas karena semakin lama, masyarakat akan menganggap bahwa negara ini adalah negara pembunuh. Terpidana mati tersebut memang bersalah. Lantas, apa dengan hukuman mati maka semuanya selesai?

Engga. Solusinya apa? Kenapa kita ga menolong mereka?

Gua sempat baca di Twitter, bahwa lebih baik membunuh 1 nyawa untuk menyelamatkan semua nyawa. Hahaha, pemikiran gua berbeda dengan statement mengenaskan itu. Gua akan lebih memilih menolong semua nyawa. Setidaknya, kita memberi mereka dorongan untuk sadar dan lebih terbuka lagi. Supaya mereka malu, dan menyesal, lalu berusaha memperbaiki diri. Bukan dengan membunuh. Membunuh itu dosa. Mereka, pengedar narkoba memang berdosa. Tetapi kalau-kalau mereka berniat untuk memperbaiki diri namun kita menghalangi niatan baik itu dan justru membunuh mereka satu per satu. Bukannya kita juga berbuat dosa besar?

Tuhan saja memaafkan, memberikan kesempatan dan pengampunan kepada kita manusia yang melakukan begitu banyak dosa, untuk memperbaiki diri dan menata hidup yang lebih baik. Kenapa, hei kalian para pejabat hukum, yang notabene adalah sesama manusia justru tidak memberikan ampun? Apalagi menunda-nunda kematian mereka seperti memberikan harapan palsu, lalu pada akhirnya mereka dieksekusi dengan tragis.

Gua yakin, hidup Pak Prasetyo setelah memberikan keputusan eksekusi mati akan "berbeda". Entah itu dia bakal ga tenang, atau hal lainnya. Kalau-kalau Bapak ga merasa bersalah atau tidak enak hati sedikit pun, saya ragu apakah Bapak masih punya rasa kemanusiaan atau tidak.

Dan dengan ini, gua menyatakan kekecewaan gua terhadap Presiden RI Ke-7, Joko Widodo. Bapak, sekali lagi, telah mengabaikan aspirasi masyarakat yang telah diutarakan baik lewat lisan maupun tulisan. Gua ga tau Indonesia ini akan melaju ke arah mana, karena yang gua liat justru pemerintahan semakin kacau dan bobrok. DPR apalagi. Kerja yang tidak ada apa-apanya, tidak ada prestasi yang membanggakan masyarakat, namun sekarang menghamburkan uang 1 triliun untuk membangun gedung baru. Gua aja yang tiap hari ke kampus, lewatin gedung DPR/MPR/DPD selalu pengen marah. Marah karena mereka bekerja dengan sangat kacau. Sekarang dengan mereka ingin membangun gedung baru, gua yakin uang itu adalah uang kita, rakyat Indonesia.

Inti dari post ini adalah, gua, sama sekali tidak setuju dengan hukuman mati. Kepada siapapun, dan atas kesalahan terberat apapun. Karena membunuh nyawa seseorang bukanlah jalan keluar menuju keadilan, tetapi terbukanya gerbang kematian akan rasa kemanusiaan.

Sekian pendapat gua, sorry kalau omongan ini terkesan such a big mouth atau ga mutu. Gua di sini hanya berpendapat, mengutarakan ketidaksukaan gua akan hukum Indonesia yang semakin buruk, setidaknya di mata gua. Oh ya, ingat, freedom of speech. Kita bebas berpendapat asal masih dalam konteks yang santun. Karena gua merasa postingan ini masih cukup santun, so, I posted it. Please have a respect. Thank you for reading my-unnecessary-comments.

Labels: ,