HOME OWNER CONTACTS FAQs FOLLOW DBOARD NEWER OLDER

#18 Why Did I Choose Communication?
Sunday, 19 April 2015 - Permalink - 0 comment(s)
"Sel, kok kuliahnya ambil jurusan Komunikasi?"
"Selly, kamu yakin ambil jurusan ini?" 
"Sel, kata lo mau ambil Akuntansi? Kok tiba-tiba ganti jadi Komunikasi?" 
"Yakin lo bakal berhasil di Komunikasi?"
----------

Hai!
Pertanyaan di atas termasuk pertanyaan yang sering dipertanyain orang-orang dekat gua, termasuk orang tua. Ga cuma mereka, bahkan terkadang gua menanyakan ke diri gua sendiri. Gua yakin ga, sih, milih Komunikasi? Di awal, sebenarnya gua ga yakin. Jujur, sama sekali ga terpikir bakalan milih Komunikasi. Padahal, jurusan ini berbanding 180° sama karakter pribadi asli gua. Sangat berbanding terbalik. Komunikasi butuh orang yang katanya, pinter ngomong atau pinter bersilat lidah. Sementara gua? Gua ini aslinya tertutup. Jarang ngomong, bahkan bisa dibilang gua ini pendiam. Tapi kok bisa-bisanya gua milih jurusan ini?

Gua sendiri juga ga kepikiran.

Dijulukkin introvert, gua setuju. Dulu pas SD gua sangat tertutup. Jarang ngomong. Disuruh maju ke depan kelas, gua pasti langsung kena syndrome demam panggung. Ga cuma badan gua yang gemetaran, suara gua juga pasti bergetar kayak orang mau nangis. Gua paling takut berdiri di depan dan bicara di depan umum. Takut banget. Padahal mereka sama-sama manusia kayak gua. Cuma ga tau kenapa, begitu ngeliat kepala-kepala orang, tuh rasanya langsung minder. Dan berlanjut sampai gua SMP. Tapi semenjak SMA, gua mulai berani. Berani bicara, berani presentasi, berani bertanya kalau ga ngerti. Di situ, gua mulai menunjukkan perbedaan yang drastis dibanding saat SD. Apa mungkin karena kelas gua isinya cewek semua? Entah. Yang jelas gua mulai berani.

Menjelang lulus, gua sempat bingung mau ambil apa. Padahal sejak kelas 10, gua mantep banget mau ambil Akuntansi. Gua cukup senang pas SMP belajar Tata Buku, Jurnal, Neraca, de el el. Tapi lama-lama gua kayak mikir, apa yakin gua ambil Ekonomi? Matematika gua pas-pasan, walaupun gua enjoy bikin Jurnal, Neraca, de el el sampe ga balance aja tuh gua bukannya pusing tapi malah tertantang sampai hasil akhirnya balance. Setelah pikir panjang lagi, kok gua merasa bosen. Gua pernah mencoba kerja kantoran, magang 3 bulan gitu di kantor temen bokap. Dan gua cukup frustasi karena kerjaannya itu-itu aja. Nyatet, dokumentasi, copy-paste di komputer. Terus-terusan sampai mati. Dan setelah selesai magang, gua sadar, bahwa gua benci kerja kantoran.

Lalu gua konsul ke guru Bahasa Indonesia gua, yang dulu jadi Pembimbing saat gua ikut ekskul Jurnalistik/Mading. Hahaha, harusnya gua konsul ke Guru BK ye. Karena gua lebih dekat sama dia, jadi ya tanya ke dia akhirnya. Kalo gua ambil jurusan yang berkaitan sama Jurnalistik, cocok atau engga. Dan Guru gua bilang cocok. Terbukti gua yang sangat enjoy jadi Editor saat pembuatan majalah sekolah. Buat artikel, foto, dan lainnya. Lalu gua terpikir untuk ambil jurusan yang ada kaitannya sama Jurnalistik. Gua mencari-cari dan ketemulah Untar. Jurusan Komunikasi, dengan 3 konsentrasi: Public Relations, Jurnalistik, dan Advertising.

Hampir gua kuliah ke Atma Jaya. Tapi setelah tahu bahwa Komunikasi di sana lebih ke bisnis, dan gua benci bisnis, akhirnya gua mantep ke Untar. Walau ga ada teman sama sekali di sana (kebetulan ada, satu, itu pun beda fakultas), justru gua merasa nyaman dengan ga ada teman-teman lama. Gua bisa membentuk karakter gua yang beda dari yang dulu saat sekolah, di depan orang-orang yang belum kenal gua sebelumnya. Dan terbukti, banyak yang bilang gua cukup berbeda. Gua sekarang merasa lebih supel, walau ga begitu talkative banget. Tapi seenggaknya gua ga malu lagi bicara di depan umum, kenalan sama orang baru. Karena gua menyandang Anak Fikom Untar (Fakultas Ilmu Komunikasi Untar). Mengharuskan gua untuk pinter bergaul dan pinter ngomong. Padahal aslinya... hahahaha.

Dan syukurlah, gua menikmati diri gua yang sekarang. Gua sempat takut ga dapat teman, ansos, dan lainnya. Tapi gua dapet teman banyak, dan cocok. Ga cuma teman, tapi mata kuliahnya juga sangat gua nikmati. Gua ga nyesel milih fakultas ini. Walau orang tua gua sempet ragu, tapi akhirnya mereka mendukung gua sepenuhnya. Sebenarnya orang tua lebih pengen gua masuk Ekonomi. Katanya biar cepet sukses, dapat banyak uang dengan menjadi pebisnis. Sementara gua benci bisnis, kerja kantoran, dan lainnya. Apalagi setelah mendengar salah satu sahabat gua, cukup stress dengan kuliah yang dia ambil (Ekonomi Akuntansi). Dan terkadang dia nyesel ambil itu, tapi Bokap dia yang mengharuskan. Gua jadi bersyukur karena orang tua cukup berpikir terbuka, dan membebaskan gua untuk memilih jurusan apa yang gua inginkan tanpa memaksa kehendak mereka. Walau yang gua ambil berlainan dengan kehendak mereka, bahkan sempat ragu. Tapi mereka mendukung gua full 100%.

Sempat takut juga kalau salah ambil jurusan. Itu hal yang paling gua takutin. Tapi setelah berjalannya waktu, justru gua merasa Tuhan memberi gua jalan di Ilmu Komunikasi. Mungkin Tuhan ingin mengubah gua supaya benar-benar jadi orang yang terbuka, ga malu, dan bisa ngomong di depan publik. Jadi, gua pun sambil belajar menjadi orang yang lebih baik lagi, dan berusaha mem-filter omongan gua yang dulu suka banget mengumpat kasar. Dan sekarang, gua sama sekali ga menyesal memilih Fikom. Gua berharap sikap optimis ini terus bertahan sampai gelar Sarjana Komunikasi tercapai. I'm proud being part of Fikom Untar :)

Yang mau gua sampaikan di sini, bagi kalian yang baca postingan ga penting ini, jangan sampai salah pilih jurusan! Karena itu pasti merugikan diri sendiri, apalagi orang tua. Percuma bayar mahal-mahal tapi lo kuliah dengan malas-malasan karena merasa passion lo bukan di sana. Dan jika orang tua lo mengkehendaki lo untuk ambil jurusan tertentu yang berlawanan dengan keinginan lo, bicarain baik-baik. Lo harus ngotot sampai bisa. Sebenarnya sih, emang tergantung situasi juga. Tapi kalo gua dapet orang tua seperti itu, sudah pasti gua ngotot. Karena yang menentukan kesuksesan gua bukan orang tua, tapi diri gua sendiri.

Labels: , ,